Analisa Teknikal - Filosofi - Part 2
Menyambung tulisan sebelumnya. Kali ini saya akan membahas premis kedua dan ketiga; Prices Move In Trends (Harga Bergerak Berdasarkan Trend) dan History Repeats Itself (Sejarah Akan Berulang).
Prices Move In Trends
«The trend is your friend, until it bends»
Konsep harga adalah sesuatu yang sangat esensial dalam metode teknikal. Tujuan utama melakukan studi harga (charting) adalah untuk mengidentifikasi trend pada tahap awal pembentukannya dalam rangka memperoleh posisi yang paling menguntungkan, searah dengan trend yang akan terjadi.
Sebagian besar teknik analisa yang ada bersifat trend-following, artinya bahwa teknik tersebut bertujuan untuk mengidentifikasi dan mengikuti trend yang sedang terjadi.
Pernyataan bahwa harga bergerak berdasarkan trend adalah adaptasi dari Hukum Newton yang pertama. Yaitu bahwa gaya (trend) yang sedang berlangsung akan terus berlanjut dalam arah yang sama sampai ada gaya yang menghentikan atau membelokkannya. Semua pendekatan trend-following bersifat «menumpang» trend yang ada sampai muncul tanda-tanda berbalik arah.
History Repeats Itself
Sebagian atau bahkan seluruh studi tentang market action dalam metode teknikal selalu berhubungan dengan psikologi manusia. Misal dalam pola grafik ( chart pattern) yang sudah diidentifikasi dan dikategorisasi selama lebih dari empat ratus tahun, mencerminkan gambaran yang jelas tentang apa yang terjadi di pasar. Gambaran ini mengungkapkan psikologi market yang sedang bullish atau bearish (tentang dua istilah ini silakan lihat artikel sebelumnya). Karena pola-pola ini cenderung memberikan hasil yang konsisten, maka diasumsikan bahwa pola tersebut akan memberikan hasil yang sama di masa yang akan datang.
Pola ini terbentuk karena psikologi manusia selalu tetap dan tidak berubah. Dua emosi dasar yang menguasai manusia adalah greed (serakah ingin untung sebanyak-banyaknya) dan fear (takut kehilangan profit yang didapat atau modal yang dimiliki). Tentang premis terakhir ini - bahwa sejarah akan berulang - dapat disimpulkan bahwa kunci untuk memahami masa yang akan datang terletak pada pemahaman tentang masa lalu, atau bahwa masa depan hanyalah pengulangan dari masa lalu.
Saya pribadi kurang setuju dengan dalil terakhir ini, karena ada kecenderungan mesin akan menggantikan manusia dalam melakukan eksekusi, contoh; penggunaan EA - Expert Advisor dan AI - Artificial Intelligence yang semakin luas di dunia trading sebagai dampak dari daya komputasi yang makin hebat. Walaupun tentu saja ini akan terjadi dalam waktu yang lama dan juga tidak semua jenis eksekusi akan menggunakan mesin. Alasan lain ketidak setujuan saya, yaitu trader yang persisten cenderung semakin educated dan cerdas menyikapi pasar. Walaupun tentu saja akan selalu ada pelaku baru dengan membawa psikologi yang sama.
If you copy this article, put a link back to http://www.fundkitchen.com/
Do you like this article? Subscribe now to get more updates.
3 comments
7 months and 22 days ago
mas Dhan, bukankah dengan semakin hebatnya mesin untuk melakukan perhitungan dan melakukan eksekusi, dalil history repeats itself itu semakin tepat?
sebab ini menurut saya lho, mesin pastinya lebih hebat dari manusia untuk melakukan perhitungan2 berdasarkan histori masa lalu, nah dari dasar perhitungan histori itu, akan mampu memprediksi kemungkinan di masa depan..
7 months and 22 days ago
Mas Jimmy, andai memang sesederhana itu.
Ada hal yang disebut self fulfilling prophecy. Ini bisa tercapai jika massa pelaku pasar memiliki persepsi yang sama. Secanggih apapun perhitungan dan akurasi mesin, tapi kalau pelaku pasar lainnya tidak punya persepsi dan timing eksekusi yang sama, hasilnya bisa «salah» juga.
Sifat market yang saya amati selama ini ternyata selalu dan terus berubah. Sejak awal saya praktek, ternyata dalil terakhir ini yang paling sulit ditemukan.
Semua pelaku pasar (forex) di dunia melihat chart yang bentuknya sama, tapi interpretasi dan persepsinya bisa sangat berbeda. Kepentingannya juga berbeda. Jangan abaikan juga bahwa di luar sana ada «aliran» fundamentalis dengan teknik analisa yang beda.
George Soros contohnya, dia fundamentalis. Hasilnya semua analisa teknikal pada impoten sekalinya dia punya mau.
Entah kalau di masa depan nanti semua pelaku adalah mesin tanpa interfensi manusia sama sekali, menggunakan perhitungan yang sama. Tapi menurut saya ini mustahil, karena market berisi pihak dengan berbagai kepentingan. Kepentingan spekulan, dan kepentingan bank sentral misalnya bisa saling bertentangan. Mesin tetap akan diprogram atas kepentingan pemiliknya.
7 months and 22 days ago
walah, postingan yang kayak gene negh yang bikin dahiku berkerut-kerut, hehehehe
ndak mudeng harus komen apa? *tiarap*
Write a comment
If you want to add your comment on this post, simply fill out the next form:
* Required fields
You can use these XHTML tags: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <code> <em> <i> <strike> <strong>.
No trackbacks
To notify a mention on this post in your blog, enable automated notification (Options > Discussion in WordPress) or specify this trackback url: http://www.fundkitchen.com/2008/01/analisa-teknikal-filosofi-part-2/trackback/